bunas shop

Minggu, 13 November 2011

Kota Jepara Nan Indah

Jepara bumi Kartini, tanah kelahiranku. Tanah tempat aku tumbuh besar
dan melahirkan anak-anakku. Kota kecil ini bersih, tertib dan santri.

Kota dimana dulu Kartini tinggal dan menggagas ide tentang kesetaraan gender.


Dunia mengenal kami sebagai pusat ekspor furniture handmade yang berkualitas tinggi. Dari ekspor furniture ini jugalah ekonomi Jepara tumbuh pesat. Kota kami ibarat sebuah pabrik furniture terbesar karena sebagian besar rumah-rumah kami merupakan rumah produksi. Bau serbuk kayu dan dengung suara mesin bubut merupakan nyanyian merdu bagi kami. Jika mereka tidak kami temukan lagi berarti mati jugalah asap dapur rumah kami.

Di Jepara tidak ada sarana dugem dan mall. Hanya ada ruang-ruang publik atau taman kota (yang kebanyakan memasang tulisan Free Hotspot area) dan pantai sebagai tempat kami berekreasi. Selebihnya kehidupan di Jepara berlalu sepi seperti biasa. Hehe..

Pusat perbelanjaan kota Jepara ada di PECINAN. Dimulai dari sebuah kelenteng merah mungil di ujung blok, pecinan merupakan deretan toko-toko kecil yang menyediakan segala kebutuhan. Dari toko kelontong, toko elektronik, apotik bahkan restoran. Oia, kenapa disebut pecinan? Karena disana yang berjualan merupakan etnis China sahabat kami. Hehe..keren kan? Kami punya China town disini.

Kami mengenal dua macam sekolah. Sekolah jawa dan sekolah arab. Sekolah jawa itu julukan untuk sekolah umum yang biasa kita datangi kalo pagi sedangkan sekolah arab itu sekolah yang kami datangi setelah jam sekolah pagi kami selesai. Di sekolah arab kami belajar tauhid, mengaji, tafsir Al-Qur’an, Bahasa Arab dan lain-lain menyangkut agama Islam pada umumnya.

Selain sekolah jawa dan arab itu kami punya banyak pondok-pondok pesantren. Yang isinya pemuda bersarung dan berpeci. Kami biasa menyebutnya “cah pondok”. Hehe..

Persijap! Persatuan sepak bola Jepara. Kami cinta persijap, kami gila bola! Ada kebiasaan rutin dari seluruh penduduk Jepara jika tim kesayangan kami ini main di kota kami sendiri, jalanan akan lengang dan karyawan halal saja pulang lebih awal. Ada juga sedikit kisah tentang siswa di sekolahku. Mayoritas mereka laki-laki dan sangat fanatik sampe-sampe menulis kenangan indah di papan tulis dijam terakhir yang seharusnya saya bertemu dengan mereka, “Ibu, Persijap main hari ini. Maaf karena susah dapet tiket masuknya dan jam ibu mepet dengan waktu main Persijap, dengan sangat menyesal kami memutuskan tidak mengikuti pelajaran ibu hari ini. Kami ikhlas mau dihukum apasaja”. Haha..dasar anak-anak.

Oia, hanya ada satu kolam renang di Jepara. Itupun kolam renang kecil di samping halaman sebuah hotel bintang tiga. Sepertinya kami memang tidak butuh kolam renang, karena Jepara punya banyak pantai yang landai dan berpasir putih yang lebih bebas kami arungi.

Kami juga punya Karimunjawa yang orang bilang lebih indah dari Lombok dan Bali. Perjalanan ke karimunjawa ditempuh dengan 4 jam naik kapal cepat dan 8 jam jam naik feri.

Jadi, temans jika ada yang nyasar ke Jepara, mampir ya..hehe